This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Saturday, 23 January 2021

Kontrakan Dengan Sekumpulan Penghuni Gaib

 Awal tahun 1998, PS – Sumatera Utara

Akan mengakhiri kelas 3 STM disalah satu sekolah menengah Teknik Swasta, teman-teman disekolah sudah pada punya rencana kemana tujuan setelah tamat sekolah nanti. Ada yang rencana buka usaha service, ada yang ingin buka usaha, ada yang mau masuk Angkatan, ada yang mau masuk Polisi, ada yang mau lanjut kuliah di luar Sumatera Utara. Sementara aku sendiri masih belum menentukan kemana rencana selanjutnya?  Tidak terpikir dibenakku akan melanjutkan kuliah, karena niat hati masih ingin senang-senang menikmati kebebasan.

Suatu sore saat dirumah kumpul bersama keluarga, Ibuku tiba-tiba berkata apa rencana yang akan aku lakukan setelah tamat nanti dari STM? Aku cuma mengatakan “belum tahu”, karena memang aku belum tahu apa yang akan aku lakukan selepas tamat STM. Kemudian Ibu aku berkata “kau ke kota B saja kuliah, disana ada Tulangmu (Paman)”. Aku terdiam, antara senang dan ragu. Soalnya aku masih senang main sama teman-teman dikampung. Setelah mikir-mikir sebentar, lalu aku menjawab “ok mak,aku akan ke B tapi aku gak mau langsung kuliah, aku mau menikmati kebebasan dulu”. Lalu ibu aku bilang “terserah, yang penting jangan lama-lama dikota ini setelah tamat STM, ditempat ini anak-anak muda bandal-bandal, banyak yang pakai narkoba”. Lalu aku jawab “iya mak”.

Sekitar Bulan April 1998, PS – Sumatera Utara

Suatu malam, aku bermimpi aneh. Dalam mimpiku, aku membuka gorden yang dibaliknya adalah dinding kaca. Ternyata aku berada didalam satu rumah yang aku tidak tahu itu rumah siapa. Setelah aku buka gorden, diluar rumah terlihat ada jalan dan dipinggir jalan tersebut ada beberapa becak dayung mangkal. Aku heran lihat becak tersebut karena belum pernah lihat becak seperti itu. Aku Cuma pernah lihat becak seperti itu didalam acara televisi. Karena ditempatku, becak menggunakan motor besar yang dinamakan dengan BSA dan orang ditempat aku mengatakan bessa (becak). Kemudian aku terbangun dan memikirkan apa arti mimpiku tersebut? Lalu aku mengambil kesimpulan kalau mimpi itu tidak punya arti dan cuma hiasan tidur belaka.

Juni 1998, PS – Sumatera Utara

Setelah tamat dari STM dan telah menerima izajah, akupun berangkat ke kota B menggunakan transportasi darat. Saat itu transportasi darat dari tempatku ke kota B adalah bus ALS (Antar Lintas Sumatera). Aku berangkat hari Senin dengan diantar Ibu dan adik-adikku. Sedih sih saat itu harus berpisah dengan ibu dan adik-adikku serta kota kelahiranku tercinta. Tapi demi cita-cita, aku harus kuat dan memeluk ibu serta menyalami adik-adikku.

Juni 1998, B – Jawa Barat

Sampai dikota B hari Rabu malam sekitar jam 00.00 lebih turun dari Bus, aku angkat barang-barangku keluar dari loket pool ALS yang ada di jalan KRC dan mencari wartel untuk menghubungi Pamanku agar menjemput aku. Selang setengah jam, Pamanku datang menggunakan sepeda motor bebek. Lalu akupun diajak kekontrakan mereka. Dikontrakan ini, Pamanku ada 3 orang yang tinggal disana. Mereka adalah saudara kandung abang beradik. Paman yang menjemput aku masih kuliah disalah satu kampus ekonomi swasta, satu lagi seumuran denganku baru tamat SMA, kemudian yg satu lagi naik kelas 3 SMA. Setelah menyimpan bawaanku, kemudian akupun bersih bersih badan dan mengganti pakaian buat tidur. Sebelum tidur, aku ngobrol-ngobrol sebentar dengan Paman mengenai kabar keluarga dikampung dan pengalaman selama perjalanan 3 hari didalam bus. Sambil ngobrol, aku memperhatikan kondisi kontrakan ini sedikit tua. Ada 3 kamar tidur, 1 kamar mandi didalam dan satu dibelakang. Kemudian dapur terpisah dengan rumah. Berada ditengah-tengah komplek perumahan. Posisi rumah pas disudut, dimana didepan ada jalan komplek dan disamping kanan juga jalan komplek. Disebelah kiri tetangga. Dibelakang tersisa halaman sedikit lalu rumah tetangga yang dibatasi dengan parit. Dihalaman belakang ada bekas pompa air yang sudah tidak bisa digunakan lagi. Setelah itu, akupun tertidur diruang keluarga beralaskan karpet karena ngantuk.

Ke esokan harinya, aku bangun tetapi Paman-pamanku belum pada bangun. Mungkin tidurku kurang nyenyak karena bukan dikamar sendiri. Lalu aku berjalan keruang depan dan mencoba menyibak gorden sekedar mengetahui seperti apa sih wajah orang-orang B yang isunya cewek-cewek disini cantik-cantik seperti artis Nike Ardilla dan Desy Ratnasari. Setelah gorden aku buka, ternyata cuma ada beberapa becak dayung yang mangkal. Kemudian didepan rumah ada tersisa sekitar 1,5 m halaman yg ditengahnya tumbuh pohon mangga.

Setelah ketiga Pamanku bangun, kamipun minum kopi diruang tengah sambil berbagi cerita. Oh iya, Paman-Pamanku ini adalah adik-adik ibuku. Mereka 13 bersaudara dan ibuku adalah yang paling tua. Kebiasaan ditempat ini ternyata kalau pagi-pagi makan gorengan yang dinamakan dengan bala-bala kalau ditempat aku namanya bakwan. Saat itu harga gorengan cuma 100 perak. Diantara ketiga Pamanku, aku lebih akrab dengan Pamanku yang masih sekolah SMA, namanya Saut. Paman aku inipun mengatakan apakah malam tadi aku tidur nyenyak? Aku mengatakan biasa saja, mungkin karena bukan tempat tinggalku sendiri jadi aku kurang nyenyak tidurnya. Lalu Pamanpun mengatakan agar aku jangan kaget kalau ada hal-hal aneh nantinya selama tinggal dikontrakan ini. Aku sempat sedikit heran kenapa Paman bilang begitu? Tetapi akhirnya aku pahami, kalau hal-hal aneh yang dimaksud adalah soal hal-hal gaib/mistis yang terjadi dikontrakan ini. Soalnya bukan sekali dua kali kalau setiap penghuni baru selalu mengalami gangguan gaib. Tidak cuma malam hari saja, tapi bisa terjadi saat pagi, siang ataupun sore. Seganas itukah penghuni tempat ini? Tapi Pamanku justru heran mendengar jawabanku, “oh itu aku tidak takut Tulang (Paman), aku justru senang dengan hal-hal mistis seperti itu”. Lalu Pamankupun lega karena aku tidak takut. Dia sendiri sebenarnya takut tapi karena sudah biasa, jadinya tidak terlalu lagi. Pamanku cerita kalau dikontrakan ini, setiap orang baru yang menginap, baik itu teman-teman mereka maupun keluarga yang berkunjung, selalu mengalami pengalaman yang tidak mengenakkan kalau malam hari saat tidur. Adalah yang kena tindi, ada yang selimutnya ditarik, ada yang dengar suara orang jalan didepan, ada suara perempuan ngobrol-ngobrol, ada suara orang mompa air padahal tidak ada pompa air, yang ada cuma bekas pompa air dibelakang. Dan menurut pengalaman Paman-Pamanku, mereka berkesimpulan kalau penghuni kontrakan ini ada “perempuan”, “kakek-kakek” dan juga “anak kecil”. Kalau yang kakek kakek, biasanya didepan kamar Pamanku (yang menjemput aku, namanya Posma), karena kamar dia punya pintu depan dan bisa langsung kedepan tanpa melalui ruang depan. Kalau yang “perempuan”, biasanya ada didepan rumah dibawah pohon mangga dan juga kadang dibelakang. Kalau yang “anak kecil” biasanya sering terdengar disamping rumah yang ada jalan komplek samping.

Gangguan Pertama – Tertimpa mahluk gaib saat tidur

Aku lupa tepatnya apakah itu hari ketiga atau hari ke empat. Suatu malam saat aku tidur, tiba-tiba tengah malam aku mendengar ada orang yang ngobrol-ngobrol diruang tengah. Hanya saja aku kurang jelas apakah itu suara perempuan atau suara laki-laki? Karena suaranya saat itu tidak terlalu jelas, seakan akan mereka takut orang terbangun. Semula aku mengira itu adalah teman-teman kuliah Paman aku yang datang berkunjung. Karena kontrakan ini dijadikan Base camp oleh teman-teman kuliah Pamanku. Tidak jarang mereka menggunakan tempat ini bermain kartu sampai pagi hari. Tetapi aku pikir-pikir, kalau teman-teman Pamanku tidak ada berkunjung malam tadi?! Terlintas juga dibenakku ada maling yang akan masuk kerumah. Aku mulai makin konsentrasi mendengar obrolan “mereka”. Dan ternyata aku baru sadar kalau penerangan dalam kamar ini ternyata tidak seperti biasa. Lampu kamar ini biasanya menggunakan lampu neon warna putih dan bukan seterang lampu teplok (lentera kecil yang bahan bakarnya menggunakan minyak tanah). Karena penerangan kamar saat ini adalah penerangan lampu teplok. Samar-samar aku mulai memahami kondisi yang kualami, pasti aku tidak bisa bergerak dan sukmaku pasti berada dialam gaib. Itu menurutku, karena aku pernah mengalami kejadian seperti ini saat masih dikampung. Benar saja, ketika aku coba bergerak ternyata tidak ada satupun anggota tubuhku yang bisa bergerak kecuali mata. Aku coba bersuara, ternyata benar juga suaraku tidak ada yang keluar. Aku faham kondisi seperti ini tidak boleh panik. Karena menurut yang aku baca, kondisi seperti ini bukan karena gangguan hantu, tapi karena kelelahan dalam otak yang mengakibatkan kinerja otak terganggu sehingga tidak bisa mengirimkan sinyal ke anggota tubuh sehingga system motoric tubuh kita terganggu. Aku telah menciptakan trik untuk mengatasi seperti ini, yaitu dengan tidak panik, atur nafas, tenangin diri, lalu secara perlahan-lahan hitung sampai 3 dalam hati dan segera menghentakkan tubuh dengan tiba-tiba. Simsalabim …. Ternyata trik yang aku gunakan berhasil.  Saat aku sadar, ternyata kondisi kamar gelap (biasanya kita tidur mematikan lampu) dan tanganku juga bisa bergerak. Lalu aku bangun dan keluar kamar sekedar memperhatikan ada apa sebenarnya? Apakah itu memang betulan orang yg lagi ngobrol atau cuma sekedar mimpi? Ternyata diluar kamar sunyi senyap dan tidak ada yang aneh. Akupun kekamar kecil sekalian buang air kecil lalu tidur kembali.

Gangguan kedua – Nenek-nenek di dapur

Seperti yang aku jelaskan dibagian atas, dapur yang kita punya itu berada dibagian belakang. Jadi harus keluar dari pintu belakang untuk memasuki dapur. Dapur ini sudah kumuh tidak terawat. Mempunyai jendela kaca tapi setengah menggunakan nako. Jendela ini tidak punya gorden sehingga aktifitas didalam dapur bisa terlihat orang dari luar. Dinding dapur ini juga sudah menghitam karena lembab dan terkena rembesan air. Genteng juga sudah banyak yang bocor tapi kami tidak punya pilihan, tempat ini menjadi dapur. Kami terpaksa menerima keadaan seperti ini karena biaya kontrakannya murah meriah dIbuat yang punya rumah. Mungkin mereka mikir, daripada tidak ada yang menempati rumah ini, yah dikontrakkan saja dengan harga murah, tanpa renovasi.

Suatu hari aku pulang dari kota sendirian karena jalan-jalan sekedar mengetahui kota B. Aku keliling-keliling kota menggunakan angkutan umum dan pulang sekitar jam setengah 6 sore. Seperti biasa, kami kalau masuk kerumah dari pintu belakang yang masuknya dari samping. Karena disamping rumah juga jalan komplek. Waktu itu keadaan sudah mulai samar-samar saat aku turun dari ojek disamping rumah. Sekilas aku lihat ada orang didapur, seorang nenek-nenek. Nenek tersebut berdiri persis didepan jendela kaca didalam dapur. Dia melihat kearah jalan tempat aku turun naik ojek. Setelah aku membayar biaya ojek, kemudian langsung menuju dapur dimana nenek-nenek tadi terlihat berdiri sekedar memastikan siapa orang tua tersebut. Aku beranggapan dia adalah tamu atau keluarga yang datang berkunjung. Waktu aku sampai didapur, aku tidak mendapati siapapun disana. Aku sempat berdiri didepan pintu dapur dan memikirkan apa yang tadi aku lihat. Apakah itu benar-benar orang atau Cuma bayangan karena suasana kurang cahaya? Akhirnya aku menganggap kalau itu cuma ilusinasiku dan aku meneruskan untuk masuk kerumah. Ternyata Paman-pamanku sudah dirumah 2 orang sambil nonton tv diruang keluarga yang bersebelahan dengan dapur. Lalu aku ceritakan barusan yang aku lihat sama kedua Pamanku. Mereka Cuma santai saja menanggapinya dan mengatakan kalau itu mungkin salah satu penghuni rumah ini. Tidak terlihat kekagetan dimata mereka dan masih asyik dengan tontonan mereka.

Tahun 1999, Gangguan ketiga – anak-anak kecil bermain disamping rumah

Pernah satu malam aku lupa persisnya bulan dan hari apa, saat aku tidur dikamar salah satu Pamanku, kamarnya terletak dibagian belakang pas dipinggir jalan samping. Aku memang sudah terbiasa tidur sampai larut malam. Waktu itu kami belum ada yang punya ponsel begitu juga perlengkapan komputer. Jadi aku kalau malam menghabiskan waktu membaca majalah dan buku-buku. Paman aku sudah tertidur diranjang atas. Karena ranjang kami bagian bawah bisa ditarik tapi belum springbed. Aku tidur dibagian bawah. Waktu itu sekitar pukul setengah 2 subuh kalau tidak salah. Pertama aku mendengar seperti ada suara orang berlari disamping rumah tapi hentakan kakinya tidak berat. Namanya tengah malam dikomplek perumahan pula, pasti suara sedikit saja sangat jelas terdengar apalagi suara orang berlari. Semula aku menganggap itu mungkin anjing yang sedang bermain, karena ada juga beberapa orang dari daerahku yang tinggal didaerah komplek tersebut dan memelihara anjing. Tetapi semakin lama suara-suara tersebut makin ramai. Bahkan ada suara-suara anak kecil kalau menurut aku masih dibawah umur 5 tahun seakan-akan sebelah kontrakan dijadikan tempat bermain. Aku terus berkonsentrasi menyimak aktifitas disebelah kontrakan dan aku meyakinkan sesadar-sadarnya kalau itu benar suara-suara anak kecil sedang bermain. Ada yang ketawa-ketawa, ada yang lempar-lemparan kaleng, ada yang mukul kayu-kayu. Aku mencoba membangunkan Pamanku yang tidur diatas tempat tidur, tapi Pamanku tetap lelap dan sudah dibangunin. Iseng aku buka gorden, walaupun nantinya pas dibuka bukan menghadap samping, karena jendela kamar menghadap belakang. Tapi setidaknya posisi jendela sudah lebih dekat kesamping dan pastinya akan kelihatan tanda-tanda kalau ada orang yang berakfitas disebelah. Ketika gorden aku buka, belum juga tanganku memegang gorden jendela, suara-suara tersebut sudah hilang berganti dengan suasana sepi mencekam. Saking penasarannya saya, aku terduduk dibawah jendela bersandar ditembok sambil memegang gorden, menunggu suara-suara tersebut muncul lagi. Ternyata suara-suara maupun aktifitas yang tadi tidak muncul lagi. Aku perhatikan dari gorden jendela yang sedikit tersingkap, dilangit bulan purnama terlihat bulat bersinar. Hingga kemudian aku mengantuk dan kembali tidur.

Esoknya kejadian yang tadi malam aku ceritakan kepada Paman-pamanku. Mereka Cuma bilang “sudahlah biarin saja begitu, yang penting kita tidak diganggu dan tidak mengalami musibah sampai sejauh ini”. Setelah aku pikir-pikir, yah betul juga, ngapain juga aku usil ngusik keberadaan mereka sedang mereka tidak mengganggu. Mereka cuma beraktifitas layaknya kita beraktifitas didunia kita.

Masih ditahun 1999, Perempuan Memompa Air - Kuntilanak

Hari-hari aku lalui seperti biasanya dan semua fenomena-fenomena ganjil yang ada dikontrakan sudah tidak terlalu aku gubris. Karena memang aku bukan tipe orang penakut terhadap hal-hal gaib. Aku justru suka ada hal-hal gaib disekitarku. Bukan berarti aku takabur dan sok jagoan, cuma aku senang mengamati hal-hal yang berbau mistis sekedar ingin mengetahui bagaimana sih kehidupan didunia mereka?

Seperti malam itu, cuaca sejak sore memang tidak bersahabat, gerimis mulai sore sampai malam. Walau tidak deras, tapi awetnya kebangetan. Kadang berhenti kadang turun dikit-dikit. Kebetulan dikontrakan ada teman-teman Paman Posma datang berkunjung dan menginap dikontrakan. Kami nonton DVD rentalan sampai jam 12 malam. Setelah beberapa film kami tonton, satu persatu mereka tepar didepan tv karena ngantuk. Berhubung aku juga ngantuk, aku mematikan tv dan dvd begitu juga lampu ruang tamu. Yang hidup Cuma lampu ruang keluarga karena mereka semua tidur disana begitu juga Pamanku Obet. Aku kemudian masuk kamar dan tidur sambil matikan lampu. Kali ini aku tidur dikamar sendirian. Karena Paman tidur diruang tamu. Tadinya aku mau tidur disana, tapi aku lihat tempat sudah tidak ada. Jadinya aku beranjak kekamar dan tidur sendiri.

Aku terbangun tengah malam karena aku dengar ada suara besi bergesekan pelan-pelan. Aku tidak langsung beranjak dari tempat tidur, aku tetap posisi berbaring sambil mengumpuli kesadaran untuk memahami suara tersebut. Suara tersebut seperti suara engsel besi karatan yang berbunyi “ngekkk ngekkk ngekkk”. Yah itu suara pompa air yang digunakan menggunakan tangan. Bukan pompa air listrik. Tapi suara ini seperti pompa yang sudah lama tidak digunakan dan kedengarannya yang memompa sangat keberatan memompa airnya. Lama aku merenungi suara dibelakang rumah memastikan itu suara apa sebenarnya? Masa jam-jam segini ada orang yang mengambil air tengah malam? Karena waktu itu perhitunganku sekitar jam 2 atau jam 3 subuh. Gerimis masih ada kedengaran dari jatuhan air dari atas genteng ke tanah.  Berlahan-lahan aku mulai sadar, kalau dibelakang rumah pompa air sudah tidak bisa digunakan lagi dan cuma tinggal besi rongsokan yang gagangnya sudah tidak ada lagi. Itupun pompanya sudah tidak kelihatan lagi warnanya karena sudah ditutupi karat yang tebal. Aku tetap menyimak aktifitas “orang mompa air” dibelakang rumah dan berusaha memastikan apakah ada suara air keluar? Ternyata suara air tidak ada keluar tapi suara pompa yang lagi digunakan tetap terdengar dengan durasi tetap. Ada 15 menit aku menunggui suara itu apakah akan berhenti atau gimana? Ternyata suara itu tetap saja ada. Seakan akan yang mompa belum memenuhi air di embernya.  Pelan-pelan aku bangun dari tidur dan berjinjit-jinjit menuju jendela kamar. Posisi aku tetap duduk dan sudah dibawah jendela. Pelan-pelan dan hati-hati, aku singkap gorden sedikit demi sedikit, dan… ternyata diluar kamar tepatnya dibelakang rumah persis ditempat pompa air, ada seseorang seperti perempuan berambut panjang berbaju putih sedang memompa air. Mahluk tersebut membelakangiku tapi rambutnya dibelakang terurai panjang hampir menyentuh tanah. Rambut mahluk tersebut seperti kena pintal bergumpal gumpal kasar. Tidak seperti rambut kuntilanak yang diperankan Suzanna di “malam satu suro”.  Rambut ini gimbal-gimbal tidak terurus. Baju mahluk tersebut banyak noda-noda lumpur seakan-akan petani baru turun kesawah. Aku sempat shock melihat pemandangan tersebut tapi ini benar-benar nyata bukan mimpi. Ternyata tidak seperti di film-film horror yang kalau diposisiku melihat hantu sambil mengintip dari balik gorden, hantunya akan melihat. Tidak, bukan seperti itu. Mungkin hantunya lagi galau atau lagi melamunin apa, yang jelas hantu itu tidak melihat kearahku. Dia tetap asik dengan pompa airnya yang airnya tak kunjung ada. View dari jendela kamar aku mengintip tidak bisa melihat wajah. Hanya bisa melihat dari samping itupun bagian belakang.

Pelan-pelan sambil berjinjit, aku keluar dari kamar dan jalan pelan-pelan keruang tamu. Karena view dari jendela ruang tamu yang ada disebelah pintu memungkinkan aku untuk melihat bentuk wajahnya. Dan lagian aku tidak takut melihatnya dari ruang tamu karena rame orang yg tidur. Pelan-pelan gorden jendela ruang tamu aku buka, eh ternyata keadaan diluar sunyi senyap. Tidak ada penampakan kuntilanak lagi yang memompa air. Yang ada diluar cuma bekas pompa air rongsokan tampa handle. Sekitar 5 menit aku clengak-clenguk mengitari pandangan disekitar belakang rumah, ternyata tetap kuntilanak yang mompa air tersebut sudah tidak ada lagi. Akhirnya akupun kembali kekamar dan rebahan ditempat tidur sambil memikirkan kejadian yang baru aku alami.

Tahun 2000, Tamu tertidur dikamar mandi

Pernah disatu waktu, teman-teman Pamanku datang bermain dikontrakan. Ternyata mereka kumpul sejak siang hari khusus untuk bermain kartu (judi). Kalau mereka main judi kartu, aku ketiban untung. Aku dapat uang kebersihan dengan membuat baskom kecil ditengah mereka. Setiap satu putaran, yang menang memasukkan 1000 perak. Hasilnya aku cuma masak mie instan sama mereka dan juga kopi. Sisanya buatku. Mereka bermain kartu sampai malam dan bubaran jam setengah 2 malam. Mereka tidur dimana-mana, ada yang dikamar, ada yang dikarpet, ada yang disofa.

Pagi harinya ada kejadian lucu dan aneh. Gimana tidak, ada teman yang ternyata tidur dikamar mandi bersandar dipintu kamar mandi. Kami semua rame-rame menanyai dia kok bisa tidur dikamar mandi? Padahal tadi malam tidak ada minum-minuman keras atau minuman alcohol. Teman inipun kebingungan kenapa dia bangun-bangun sudah dikamar mandi?! Padahal tadi malam dia tertidur di sofa ruang tamu depan. Memang sih ruang tamu itu didepan kamar mandi dalam. Dan dia terbangun didalam kamar mandi dalam. Padahal dia ke toilet cuma saat bubaran saja sebelum tidur. Tengah malam dia tidak ada terbangun untuk kekamar mandi. Yang jelas menurut dia, dia tidak habis pikir kenapa bisa berada dikamar mandi. Dia memang sudah tahu kondisi kontrakan itu jauh-jauh hari kalau kontrakan tersebut ada “penghuni” gaib. Walaupun begitu, mereka toh tidak pernah jera datang dan menginap dikontrakan. Karena “penghuni” kontrakan sejauh ini belum ada pernah mencelakai kami ataupun tamu yang datang kesana. Mereka Cuma iseng saja menunjukkan eksistensi mereka dikontrakan itu. Kita sih santuy selama “mereka” juga santuy. Heheheh

Jauh Hari Sebelum Saya Datang di kota B   ini

Pernah teman pamanku cerita samaku. Mereka pernah buat percobaan disalah satu kamar dikontrakan ini. Diantara 3 kamar yang ada dikontrakan ini, kamar yang paling seram yang berada diruang keluarga.  Kenapa dibilang kamar yang paling seram? Karena dikamar ini biasanya teman-teman pamanku yang tidur sering mengalami gangguan. Saking seringnya kamar ini “beraktifitas”, iseng- iseng teman-teman paman menyarankan membuat percobaan dikamar ini.

Paman: “percobaan seperti apa yang akan kita buat?”

Rudi (teman paman) : “bagaimana kalau malam ini jangan ada yang tidur dikamar ini, tempat tidur kita rapikan, selimut dilipatin. Kemudian dilantai kita taburi bedak, rata disemua lantai kamar”. Pamanpun menyetujui ide tersebut.

Tiba malam hari, bukan malam Jumat Kliwon tapi Selasa malam. Kebetulan dikontrakan tidak ada perempuan yang tinggal jadi kita tidak punya bedak. Akhirnya yang mereka gunakan tepung dibeli dari warung. Tepung yang mereka gunakan warna putih dan kelihatan licin. Tidak tahu itu jenis tepung apa, waktu itu dibeli seperempat kilo. Tempat tidur sudah dirapikan, sprei dibuat ketat seperti sprei rumah sakit, pintu yang keluar kamar dikunci rapat-rapat dan kuncinya disimpan. Lampu kamar dimatikan, kemudian pintu yang masuk kedalam dari ruang keluarga juga dikunci dari luar dan kuncinya juga disimpan oleh paman. Mereka tetap bersikap seperti biasa dikontrakan, ngobrol sambil nonton acara televisi hingga kemudian mereka tertidur diruang keluarga didepan tv.

Keesokan harinya, mereka tidak langsung membuka kamar, seperti yang diceritakan rudi.

Rudi : “besoknya kami tidak langsung membuka kamar, kami masih santai-santai diteras depan ngopi-ngopi sambil makan gorengan”.

Aku : “berapa orang kemarin bang dikontrakan waktu membuat percobaan itu?”

Rudi : “Ada 6 orang kami waktu itu, Pamanmu bertiga, aku dan 2 orang kawan kami si Herman dan si
 Bonar”.

Setelah mereka santai-santai ngopi dan makan gorengan, mereka siap-siap membuka kamar yang mereka buat eksperimen. Paman Posma mengambil kunci kamar yang disembunyikan ntah darimana?! Pelan-pelan, pintupun terbuka….

Pembaca pasti tidak yakin apa yang terjadi dikamar itu? Dilantai kamar, penuh bekas kaki tapi tidak terlihat ada bentuk jari kaki. Bekas-bekas kaki tersebut tidak sama semua bentuknya. Ada yang besar, ada yang panjang tapi tidak lebar, ada seperti bekas kaki anak kecil. Tapi semua tidak kelihatan bentuk jari. Kemudian posisi tempat tidur yang sebelumnya rapi dengan sprei ketat, sudah sembrawut. Selimut yang tadinya terlipat rapi diatas tempat tidur kini terurai setengah dilantai seperti habis kena pakai. Semua yang menyaksikan terdiam dan pada melongo dari depan pintu kamar. Sialnya saat itu kata Rudi, tidak ada yang punya kamera agar bisa mengabadikan apa yang terjadi dikamar itu.

Satu persatu mereka kembali keteras dan memikirkan apa yang terjadi? Mereka sempat saling tuduh kalau salah satu dari mereka ada yang curang dan memasuki kamar serta mengacak-acak isi kamar. Paman saya cuma ketawa dan mengatakan kalau itu tidak mungkin. Soalnya kunci disimpan sama dia dan juga didepan pintu kamar, teman-temannya pada tidur menghalangi pintu kamar. Bahkan mereka sendiripun tidak yakin dengan apa yang terjadi dikamar itu. Tetap saja mereka saling curiga satu sama lain. Hingga salah satu dari mereka nyeletuk.

Bonar : “gini sajalah, kita ke pasar K beli kepala babi sama darahnya”.

Rudi : “buat apa?”

Bonar: “kan tidak semua orang menyukai babi, siapa tau dulu waktu masih hidup, arwah dirumah ini mengharamkan daging babi. Dengan begitu, dia pasti akan pergi karna tempat ini sudah menjadi nazis buat mereka”.

Yang lain-lain setelah mendengar penjelasan dia pada tertawa, menganggap itu adalah hal konyol dan sangat konyol banget. Tapi penjelasan si Bonar inipun menurut mereka masuk akal juga walau konyol. Cuma ada risiko yang mereka kuatirkan, nanti habis mereka buat, “penghuni” kontrakan ini bukan malah pergi, tapi malah jadi ganas!

Paman: “ya udah kita buat seperti itu saja, kalaupun nanti hasilnya hantu-hantu disini jadi ganas, kita cabut saja dari sini dan cari kontrakan yang lebih nyaman”.

Seminggu kemudian, mereka melakukan apa yang telah mereka rencanakan. Mereka pergi ke pasar K membeli kepala babi dan sepelastik 2 kiloan darahnya. Waktu itu hari Minggu, siang hari sehabis pulang ibadah Minggu.

Setelah mereka menyediakan segala sesuatunya untuk “ritual” tanpa orang Pintar hanya ritual orang pintar-pintaran. Darah babi tersebut mereka cecerin keliling rumah dan tempat-tempat yang sering ada penampakan. Termasuk diatas asbes rumah, dapur, wc belakang dan kamar mandi. Kemudian, kepala babinya mereka sup bulat-bulat pakai periuk besar. Kebetulan ukuran kepala babinya kecil karena memang menggunakan babi yang kecil. Habis disup, mereka makan bersama rame-rame dan mengeluarkan daging yang ada pada kepala babi tersebut. Setelah isi kepala babi tersebut mereka habiskan, kepala babi tersebut beserta darah babi yang tersisa mereka tanam dibelakang rumah dibagian sudut.

Kemudian Rudi melanjutkan ceritanya

Rudi : “adalah 2 bulan semenjak kami buat darah babi itu, tidak ada hal-hal aneh kami alami, tidurpun nyenyak, tapi itu cuma 2 bulan”.

Selanjutnya setelah 2 bulan, hal hal ganjil seperti sebelumnya masih tetap terjadi sehingga mereka membiarkan saja kejadian tersebut.

Masih ditahun 2000, Perempuan yang menampakkan diri didalam kontrakan

Suatu waktu, ada sepupu jauh datang dari kampung. Sebenarnya sepupu ini punya saudara-saudara juga dikota B ini. Dia cuma datang berkunjung setelah dari rumah saudaranya. Namanya Ucok. Saat itu aku sudah kuliah disalah satu kampus swasta dikota B. Sedang Pamanku yang seumuran denganku diterima disalah satu kampus negeri di Jawa tengah. Kemudian Pamanku yang kemarin kuliah sudah lulus dan kerja di kabupaten P, masih di Jabar. Kalau Pamanku yang kemarin masih SMU, sekarang udah tamat dan tidak dikota B lagi. Otomatis dirumah tinggal aku sendiri. Aku tidur dikamar yang sebelah ruang keluarga karena lebih dekat dengan tv. Kami tidur dikamar ini dengan si Ucok sepupuku tersebut. Dia gak mau tidur dikamar lain, katanya tidak enak kalau tidak ada teman.

Malam harinya sehabis nonton, kita tidur. Aku dikasur atas dan dia dikasur bawah. Tetiba tengah malam aku terbangun tapi tidak bisa bergerak. Kembali aku “ketindihan”.  Aku melirik kebawah tempat si Ucok berbaring, ternyata dia gemetaran menggigil seperti orang kena malaria. Aku berusaha melepaskan ketindihan yang aku alami. Setelah berjuang berkali-kali akupun bisa lepas dari rasa ketindihan. Aku lihat dibawah si Ucok ini masih gemtaran sambil berucap “kenapanya dengan badanku ini....huuuuhhhhh kenapanya badanku ini…. “. Begitulah dia selalu berulang mengucapkan. Akhirnya aku bangunkan dia.

“eh cokkk…cok, kau kenapa?”

Diapun bangun.

“emang kenapa bang? Gak apa apa kok”.

“apanya yang tidak apa-apa? Dari tadi kau gemetaran sambil ngomong kenapanya dengan badanku ini?”. “kau mimpi yah cok?”.

Lalu dia jawab

“gak bang, gak kenapa-kenapa kok, cuma rasanya capek”.

Lalu akupun menyuruh dia kembali tidur. Akupun berdoa menurut kepercayaanku. Karena ada doa yang aku percaya mampu mengusir tentang hal-hal gaib yang berkaitan dengan hantu. Setelah aku berdoa, baru aku sadari kalau pintu kamar tidur kami terbuka lebar. Padahal biasanya pintu aku tutup kalau mau tidur. “ah mungkin si ucok tadi kekamar kecil dan lupa menutup  pintunya” bathinku. Baru saja aku hendak turun menutup pintu, tiba-tiba didepan pintu ada muncul seorang perempuan. Kemunculannya bukan tiba-tiba ada seperti di film-film hantu. Tapi perempuan ini seperti datang dari ruang tamu menuju kamar kami layaknya manusia biasa. Aku terbengong, bukan takut. Terlintas dibenakku mungkin itu adalah teman Pamanku yang datang berkunjung. Dan akupun baru teringat kalau dirumah tidak ada orang kecuali kami berdua, aku dan si Ucok. Aku memperhatikan perempuan yang ada didepan pintu itu. Ceweknya putih, ciri khas orang sini. Tingginya sekitar 150an cm, rambutnya pendek. Sekilas terlihat seperti orang cina, tapi ini bukan cina. Menurut aku ini cewek asli pribumi. Kita berdua hanya saling tatap-tatapan. Dia didepan pintu, aku diatas ranjang. Lalu diapun pergi lagi kearah ruang tamu. Anehnya saat itu, aku turun dari tempat tidur dan menutup pintu kamar dan kemudian tidur. Seakan-akan itu bukan suatu hal yang aneh padahal justru aneh! Seandainya otak warasku bekerja saat itu, harusnya aku mikir perempuan itu siapa? Kok bisa muncul dirumah ini? Malingkah?.

Hingga kemudian pagi harinya aku terbangun. Aku masih memikiri kejadian tidak masuk akal yang aku alami tadi malam. Akupun ceritakan sama si ucok dan dia cuma bilang kalau aku cuma mimpi. Padahal itu bukan mimpi. Yah siapa sih orang yang akan percaya kalau kita menceritakan hal-hal gaib yang tidak masuk akal? Mana ada orang percaya?

Sekian dulu cerita dari saya. Sebenarnya masih banyak cerita mengenai hal yang aneh-aneh dikontrakan ini. Cuma kalau aku ceritain semua, rasanya sudah menjadi tidak aneh lagi saking seringnya mengalami hal mistis. Mungkin lain kali aku akan menuliskan pengalaman aku selama tinggal di mes organisasi kampus. Tempat yang paling seram yang pernah aku tempati. Dimana sekumpulan tentara jepang baris berbaris didepan kantor dan perempuan misterius menggunakan pakaian ala keraton di film “Angling Dharma” mengendarai delman tengah malam dikawal oleh beberapa orang pengawal membawa tombak. 

Terimakasih karena sudah membaca cerita saya, silahkan beri komentar. Salam

= Tarambal =

Friday, 22 January 2021

Mustika Batu Kelapa (Kentos)

Batu Kelapa atau orang kebanyakan bilang Mustika Batu Kelapa atau Kentos, banyak dipercaya orang sebagai batu yang langka. Batu ini berasal dari buah kelapa yang sudah tua dan memfosil didalam kelapa sehingga mengeras seperti batu. Batu kelapa ini berwarna putih dan ada guratan lurus-lurus memanjang dari atas kebawah disekeliling batu tersebut. Batu kelapa ini sangat langka dan belum tentu dapat dengan membelah seribuan buah kelapa. Untuk mendapatkan batu ini dari pencarian di alam, tergantung jodoh. Walau kita cari sampai puluhan tahun juga kalau memang belum jodoh yah tidak dapat, kecuali kita beli dari orang ataupun ada orang yang memberinya. 

Sebelum heboh orang menggunakan batu akik dan mencari batu-batuan unik buat sekedar cincin atau koleksi, mustika batu kelapa sudah banyak dicari orang. Bahkan kabarnya ada orang yg bersedia membayar puluhan juta rupiah demi mendapatkan sebuah batu mustika kelapa. Akibat banyaknya orang mencari batu mustika kelapa ini, tidak sedikit orang dengan niat jelek membuat batu mustika kelapa palsu demi mendapatkan untung yang fantastis. Bahkan saking niatnya orang menjual batu mustika kelapa palsu, mereka bekerjasama dengan paranormal karbitan dengan pura-pura membuat tirakat dan sesajenan untuk "memanggil" batu mustika dari alam gaib. Niat banget yah... hahhaha

Banyak informasi yang saya galih mengenai kehebatan batu mustika kelapa ini, cuma yang paling diyakini orang adalah sebagai anti basi makanan dan juga sebagai penglaris. Itulah sebabnya banyak pengusaha rumah makan ingin memiliki batu mustika ini disebabkan karena khasiat khodam yang ada didalamnya. 

Batu yang saya tampilkan diatas adalah sebuah batu kelapa yang saya sendiri saja tidak tahu apa ini asli apa tidak? Batu ini pemberian nenek saya sekitar tahun 2015 pada saat musim batu-batu akik. Kebetulan saya orangnya tidak ikutan mencari ataupun mengkoleksi batu-batu unik sampai mencari dipinggir-pinggir kali maupun digalian batu. Saya cuma senang melihat lihat milik teman ataupun milik keluarga yang kebetulan mengoleksi berbagai batu-batu unik.

Adalah Nenek saya yang mungkin memperhatikan saya tidak punya batu-batuan unik sehingga menanyakan kesaya kenapa tidak mempunyai batu seperti saudara-saudara yang lain? Saya cuma bilang tidak terlalu suka koleksi batu-batu seperti itu. Kalau ada yang ngasih, yah saya simpan, kalau tidak ada yah sudah. 

Kemudian Nenek saya kekamarnya dan memberikan saya sebuah batu warna putih seperti gambar diatas. Saya heran darimana Nenek saya mendapatkan batu seperti itu? Nenek cuma bilang kalau batu tersebut sudah lama disimpan, sejak paman-paman saya masih kecil (sekarang anak-anak paman saya udah besar). Dan menurut orang-orang kata Nenek saya, kalau batu itu namanya batu kelapa. Beliau sendiri tidak tahu apa kegunaan mistisnya batu tersebut. Yang Beliau tahu, itu gunanya buat hiasan kalung maupun cincin.
Sampai sejauh inipun, saya tidak pernah menguji khasiat dari batu kelapa ini, mungkin ada ritual-ritual atau laku isyarat tertentu, saya tidak tahu.

Bagaimana mengetahui batu kelapa yang asli maupun palsu?

Nah ini menjadi banyak pertanyaan kepada pemilik batu-batu mustika, khususnya pemilik batu kelapa mustika. Sejauh ini, cara orang menguji batu mustika kelapa adalah dengan meletakkannya pada makanan basah dan menunggu sampai 3 hari. Kalau makanan tersebut basi, berarti batu tersebut palsu. Saya bingung sendiri kenapa bisa makanan tidak basi hanya gara-gara meletakkan batu kelapa disekitar makanan tersebut? Apakah batu tersebut mengeluarkan sejenis zat khusus gitu untuk mengusir bakteri penyebab makanan basi?? Menurut saya sih pasti basi. hahahhah...
Saya sendiri pengen menguji batu ini kemakanan, tapi sampai sekarang belum kesampaian, sayangkan makanannya harus terbuang atau nganggur selama berhari-hari tidak dimakan??

Tapi ada juga orang yang menguji batu tersebut dengan menggosokkannya ke duit kertas. Kalau warna duit tersebut nempel pada batu kelapa milik kita, berarti batu kelapa itu asli. Tapi kalau warna kertas ataupun tinta dari uang tersebut tidak nempel, berarti batu tersebut palsu.

Begitu kira-kira ulasan saya mengenai batu kelapa mustika ini. Tergantung teman-teman percaya atau tidak mengenai mistis dari batu kelapa, semua saya serahkan keteman-teman sendiri. Terimakasih

Sunday, 25 October 2020

Santet Janur Ireng - Part 2


Intan Kuncoro

Alunan kendang dan gending beradu dalam buaian musik yang memabukkan di ikuti gerakan luwes badan seorang penari yang mengenakan topeng kayu dari pohon sono, Mira mengamati acara ludruk malam ini dengan tawa bersuka cita, ludruk sendiri adalah sebuah kesenian tari yang biasa di ikuti dengan senda gurau dimana penonton biasa di libatkan dalam lakon dan drama. Pertunjukan ludruk sendiri sudah lama di kenal di tanah jawa bahkan sejak dulu kala, salah satu dari banyaknya kekayaan budaya khas Nusantara.

Suara tawa penonton terdengar sesekali manakala si penari yang kebanyakan di perankan oleh lelaki melontarkan candaan kepada lawan main yang biasa di sebut lakon di dalam seni pertunjukan. Mira dan penonton lain tampak begitu antusias, bersama dengan anak-anak desa Mira duduk di  barisan paling depan.  Usia Mira sendiri belum menginjak sepuluh tahun bersamaan dengan anak-anak lain yang sebaya dengannya. Manakala ketika si penari mulai menekuk badan mengikuti gerakan dan dendang nada dari 

Gamelan yang di tabuh tiba-tiba dari  tempat Mira bersila di atas rumput mendadak menjadi sunyi senyap. Mira terdiam gelisah karena sewaktu saat pertunjukan ludruk sedang berlangsung Mira melihat sesosok 

Wanita berambut panjang yang memiliki tinggi nyaris lebih dari 2 meter, ia tiba-tiba hadir dan berdiri di belakang sang penari. Dengan hanya berbusana seperca kain putih yang lusuh ia menunduk dalam diam, Mira 

Tertuju pada tangan dan kuku jarinya yang panjang sekali, tak hanya itu ia juga memiliki rambut yang panjang tergerai tak berujung, Mira menatap sosok itu yang kini seperti sedang memperhatikannya.


Mira masih tertegun menatapnya terlebih saat Mira baru sadar tempat ia bersila tak lagi di temukan keramaian yang sebelumnya di penuhi warga kampung yang sedang menyaksikan ludruk. Lapangan rumput itu kini menjadi tempat kosong yang sunyi senyap sebelum perlahan Mira melihatnya, entah

Bagaimana sosok itu muncul satu persatu di sekitar tempat Mira duduk.

"Miraaa" ucap sosok itu mendekatinya. "mrinio nduk" (kesini nak).

Mira tak menggubris ucapan sosok itu, namun Mira tak dapat mengabaikan sosok lain yang kian lama kian ramai, mulai dari sosok tanpa kulit yang di bungkus kain kafan, hingga sosok hitam besar dengan bulu lebat yang memenuhi tempat itu.

  

Mira gemetar menyaksikannya, ia tak mengerti bagaimana ia bisa sampai di tempat ini. Sebelumnya yang ia lihat hanyalah warga dan anak-anak desa namun sekarang, tempat ini justru di penuhi makhluk-makhluk yang biasa hadir di dalam mimpi Mira.

 "nduk" sosok itu mendekat, caranya berjalan begitu aneh. Ia tak mengangkat kakinya melainkan menyeret kakinya. Mira merangkak mundur namun sosok itu mendekat lebih cepat, Mira tersudut karena yang terjadi tempat itu sudah di penuhi balak lelembut.

  

Tangannya yang kurus kering menyentuh kepala Mira. Ia membelai rambut Mira dengan begitu lembut, wajahnya yang tertutup rambut kini mulai nampak di depan mata Mira, wajahnya sayu, tampak begitu menderita, air mata'nya menetes dan ia membisikkan sesuatu kepada Mira.

"janur ireng iku tondo pitu lakon isok dikalahno, nanging dalan iku isek suwe, amergo loro bakal di rasakno kabeh kanggo ngadep ratu" (janur hitam adalah pertanda bahwa sang tujuh bisa di kalahkan, namun jalan itu masih lama, karena sakit akan di rasakan oleh semua untuk dapat bertemu dengan sang ratu) Mira tersentak membuka mata. Keningnya berkeringat dengan tangan gemetar hebat, Mira terdiam menatap sekeliling, untungnya tak di temuinya pemandangan mengerikan itu. Sudah lama sekali Mira tak memimpikan peristiwa itu yang hingga saat ini masih sulit untuk di bedakan oleh dirinya sendiri apakah pengelihatan itu adalah bagian dari ingatan di masa lalunya ataukah hanya sebuah mimpi yang datang secara tiba-tiba. Mata Mira teralihkan pada jarum infus di tangannya, ia tak mengerti kenapa bisa sampai ada di tempat ini saat, ngilu di bahu'nya tiba-tiba terasa menyakitkan, Mira baru sadar dengan apa yang sebelumnya terjadi.

  

Kudro bercerita tentang bayu saseno menyelam dalam ingatan masalalunya, mencari dimana keberadaannya dalam tatanan bunga wijayakusuma karma pesugihan (end)


Seorang wanita misterius yang mengenakan blazer merah datang menemuinya, entah apa yang terjadi setelahnya karena hal terakhir yang Mira ingat adalah ia melompat keluar dari jendela tepat di lantai tujuh tempat kantor Mira berada.

  

Tak beberapa lama seseorang membuka pintu. Mira menoleh melihat seorang lelaki jangkung dengan jenggot tebal dan rambut hitam tebalnya melangkah masuk.


"Mira, lo udah sadar?"


Mira tak menggubris pertanyaan lelaki itu melainkan Mira justru bertanya tentang sesuatu yang lain. "rik, dia mati?"

"mati? Siapa?" tanya lelaki bernama Riko itu.

"perempuan itu, dia yang nusuk gw"

Riko tidak mengerti maksud Mira. "sorry. Tapi kayanya ada yang salah di sini?"

"salah" "-salah gimana maksudnya?" tanya Mira.


"yang nusuk bahu lo itu" Riko terdiam lama, "diri lo sendiri".

 ***

"matamu!! Maksud lo gw yang nusuk bahu gw sendiri begitu" teriak Mira tak mengerti.

  

"tenang Mir, kondisi lo 

Masih belum stabil." ucap Riko menenangkan, "lo inget di ruangan kita 

Ada cctv yang baru di pasang beberapa bulan lalu?"

  

"iya. Inget" ucap Mira.

  

"jadi, setelah gw denger

 lo teriak, gw langsung pergi menuju kantor, dan di sana gw lihat lo 

Udah terkapar dalam keadaan kritis dan darah lo ada di mana-mana" Riko terdiam sejenak menatap ekspresi Mira, "masalahnya gak ada siapa-siapa di sana, cuma ada lo"

"bentar" ucap Mira, "waktu lo datang. Lo gak lihat ada perempuan jatuh, lompat dari kantor kita"

"gak ada" ucap Riko dengan wajah yakin. "gak ada siapapun di sana ataupun lompat. Gak ada Mir!!"

 "trus? Lo ngecek cctv?" tanya Mira masih penasaran.

"ya. Itu yang gw lakukan sama security yang bertugas saat itu" Riko terdiam, ia melipat tangan sebelum melanjutkan ceritanya. "di cctv, gw lihat lo masuk ke ruangan kemudian duduk, entah apa yang lo lakuin, gak jelas, kayanya lo lagi baca buku atau jurnal dan setelah lo duduk, lo berdiri kemudian keluar 

Dari ruangan" Riko menatap mata Mira "gak beberapa lama, lo balik dengan kondisi membawa pisau, dan hal berikutnya adalah, ya.. Lo udah tahu akhirnya, lo nusuk bahu lo berkali-kali sambil tertawa. Aneh tau gak. Kalau lo gak percaya, gw bakal tunjukin rekamannya"

Mira hanya diam, ia tak percaya sedikitpun dari apa yang di ucapkan oleh Riko.

"di mana jurnal gw?"


Riko merogoh isi tas'nya mengeluarkan jurnalnya, memberikannya kepada Mira. 

"ada lagi? Buku kulit? Lo lihat kan, warnanya cokelat?"

Riko hanya menatap Mira binung, "gak ada lagi Mir, hanya ini yang ada di sana"

"ada lagi bangsat!!" teriak Mira, "di meja gw ada buku kulit warnanya cokelat dan ada tulisan aksara jawabanya!!"

  

"gw gak lihat Mir-" ucap Riko.

Mira tak tau apa yang terjadi, ia yakin bila ada seorang wanita misterius yang menusuknya lalu bagaimana mungkin tiba-tiba semua ini menjadi dirinya sendiri yang menusuk bahunya.

Mira membuka jurnal, melihat satu-persatu halaman di dalamnya, namun Mira merasa ada yang 

Salah dengan jurnalnya. Riko yang mengamati Mira tampak menyadari dari ekspresi wajah Mira yang seperti kebingungan.

  "ada apa Mir, ada yang salah?"

Mira menoleh menatap Riko, "ada yang sengaja ngerobek beberapa halaman jurnal gw!"

Mira kembali melihat halaman-halaman di dalam jurnalnya satu persatu itu sampai ia berhenti 

Di sebuah halaman lain, di sana tertulis sebuah pesan yang entah di tulis oleh siapa.

"bayu sasono iku lawang sing mok golek'i, tapi kuncine onok nang Intan Kuncoro" (bayu sasono adalah pintu yang harus kamu cari, tapi kunci dari pintu itu ada pada nama Intan Kuncoro)

Mira terdiam merenung sesaat. Ada sesuatu yang sedang menunggunya, siapa –nama-nama ini. Mira tak mengerti sama sekali.

**

 terdengar suara pintu di ketuk.  


"nduk, awakmu jek gak enak tah?" (nak, badanmu masih gak enak?)

  "iyo pak. Enten nopo?" (iya pak. Memang ada apa?)

"iki loh, onok tamu kepingin ketemu" (ini loh ada tamu yang ingin bertemu)

"sopo?" (siapa)

"metu dilek to nduk, bapak gak enak wes kadong ngomong nek onok awakmu nang omah" (keluar dulu dong nak, bapak gak enak karena sudah terlanjur bilang kalau kamu ada di rumah)

"nggih pak" (baik pak)

Pintu terbuka. Langkah kaki terdengar di sepanjang lantai tanah di dalam rumah gubuk itu, manakala langkah kaki sampai di muka pintu rumah, sosok lelaki yang mengenakan kemeja putih itu menatap sayu.

"sri, piye kabare, aku teko mrene kepingin nyampek'no hal sing ngganjel sampek sak iki?" (sri, gimana kabarnya, aku datang kesini ingin menyampaikan sesuatu yang mengganjal sampai saat ini?)

  

"tentang opo mas?" (memangnya tentang apa mas?)

 "Kuncoro dan awal mula Janur Ireng".


Arjo Kuncoro


Mobil melaju di atas jalanan beraspal dengan pemandangan pohon besar nan tinggi di sekitarnya. Langit mendung, Sri menatap lurus jalanan yang ada di depannya. Aneh. Tak di temui pengendara lain di jalan ini selain dirinya sendiri seakan jalan panjang ini tak pernah di lewati lagi oleh siapapun. Sugik sendiri terlihat fokus menyetir tanpa mengeluarkan sepatah katapun seakan Sri tidak pernah ada di sampingnya.



Setelah lama berkendara, terdengar suara gemuruh di atas langit, sebuah pertanda akan datangnya badai. Sri hanya diam, teringat bagaimana Sugik mengatakannya tadi, sesuatu tentang "Janur ireng". Sebuah kepingan puzzle yang entah bagaimana membuat Sri begitu tertarik untuk tahu peristiwa apa yang sebenarnya terjadi pada sebuah keluarga bernama "Kuncoro". Kepingan puzle yang sampai saat ini masih tercecer di hadapannya.



Mobil tiba-tiba berhenti di depan sebuah  jalanan buntu yang tertutup oleh pohon besar nan tinggi, di sekitarnya di penuhi rumput dan ilalang liar yang rimbun. Sugik menatap Sri memberikan gestur tanda mengangguk sebelum melangkah keluar bersama-sama. Pandangan Sri menatap ke arah rumput dan ilalang liar yang ada di hadapannya. Dalam hati, Sri bertanya-tanya, tempat apa sebenarnya ini. 

Sugik melangkah ke bagasi mobil di belakang, ia mengeluarkan sesuatu dari sana, ketika Sri memandangnya ia melihat Sugik mendekat dengan dua bilah parang panjang.

"kediamane Kuncoro onok nang walek'e kebon iki" (kediaman rumah Kuncoro ada di balik rumput ini)

Sugik melangkah lebih dahulu, ia melewati Sri sebelum menyabitkan parangnya membuka jalan dan Sri mengikutinya dari belakang.

Tercium bau busuk aroma yang tidak mengenakan saat Sugik dan Sri berjalan bersama, aroma bangkai yang seperti sudah lama membusuk namun Sri tak mengerti bebauan apa yang ia cium.

Sugik terus menerus memangkas rumput dan ilalang liar yang ada di depannya, tanpa memperdulikan aroma itu Sugik terus menembus lahan yang luasnya hampir berhektar-hektar. Ia tak mengerti, sehebat dan sekaya apa pemilik lahan ini dan bagaimana tempat ini bisa di tinggalkan begitu saja.

Langit masih mendung dengan gemuruh guntur yang sesekali terdengar hingga akhirnya setetes hujan mulai turun, Sugik seperti tahu panggilan alam maka ia mempercepat langkah dan sabitan parangnya sementara Sri sudah memegangi kepalanya saat hujan semakin deras, tiba-tiba Sri mendengarnya, lewat sayup-sayup angin yang berhembus Sri mendengar suara teriakan orang-orang dari balik semak-belukar dan lahan ilalang liar suara dari orang –orang yang menjerit tersiksa, Sri berhenti melangkah, matanya menatap sekeliling, namun tak di temui apapun selain ilalang liar yang bergesekan satu sama lain karena angin sebelum Sri melihatnya.


Sesuatu yang melintas begitu saja di antara ilalang, seorang perempuan berambut pendek yang menatap dirinya. Matanya cokelat dengan senyuman yang manis, ia mengenakan gaun putih dengan corak khas arsir jawa, ia melintas lalu lenyap di balik ilalang lain, Sri tiba-tiba merasakan firasat yang tidak menyenangkan. 


Tatapan sosok itu seakan menghipnotis dirinya. Merasakan senyuman manis itu seperti sebuah kutukan pedih yang pernah Sri lihat ketika Sabdo Kuncoro tersenyum untuk terakhir kalinya saat makhluk hitam itu memelintir kepalanya sebelum melemparkannya di hadapan Sri.

"Sri. Kowe gak popo" (Sri, kamu gak papa?) tanya Sugik, ekspresi wajahnya tampak khawatir.

"gak popo mas" (gak papa mas) jawab Sri,

"yo wes, ayok. Udan'e tambah deres" (ayok. Hujannya semakin deras) sahut Sugik menarik tangan Sri.

Di balik jalanan bersemak yang Sugik buka, Sri melihat sebuah rumah tua dengan bangunan bergaya pendopo, begitu luas, begitu megah, namun tak lagi terawat. Di sana-sini di temukan sulur-sulur tanaman merambat liar dan pohon-pohon beringin besar yang tumbuh di sekitar halaman. Sugik kembali menarik tangan Sri, membawanya mendekati teras rumah, di sana Sri bisa merasakan bahwa rumah ini pasti sudah di tinggalkan bertahun-tahun hingga tak ada lagi kehidupan yang tersisa di tempat ini. Hanya sebuah lahan tua yang di penuhi kengerian, tiba-tiba terdengar suara pintu berderit terbuka, Sugik ada di sana, menatap Sri.

"masuk Sri, bakal tak duduhi opo iku sing jeneng'e Janur Ireng" (Masuk Sri, akan aku tunjukkan apa itu Janur hitam) 

 Sugik berjalan di atas lantai kayu, langkah kakinya menggema di sepanjang rumah besar ini yang sebagian di bangun dengan kayu jati dan ukiran khas jawa yang begitu kental. Bermodalkan lampu petromaks yang Sugik temukan di atas meja, Sugik melangkah dengan cahaya pijar menelusuri lorong yang di penuhi pintu-pintu tua yang bercorak gelap gulita tak terjamah.

Beberapa kali Sugik berhenti, menerangi beberapa sudut seakan di rumah itu ada sesuatu yang mengamatinya. Sri sendiri merasakan sesuatu yang tidak mengenakan, beberapa kali sayup suara orang menangis terdengar dari jauh namun Sri tidak yakin dengan perasaannya.

"nang ndi mas?" (di mana mas?)

"mari ngene Sri" (sebentar lagi Sri)

Sugik terus berjalan, gemuruh dan suara gerimis hujan masih terdengar di luar namun mereka seakan tak perduli dan terus melanjutkan langkah mereka hingga sampailah di sudut ruang paling gelap.

Sugik mendorong pintu itu, dan di dalamnya ia menemukan satu kursi tua yang ada di tengah ruang besar itu.

Sri tak mengerti kenapa Sugik membawanya kesini. Ia pun tak tahu menahu sampai Sugik menatap ke langit-langit. Sri mengikuti mata Sugik.

Tepat di atasnya. Ada sembilan belas Janur ireng yang di ikat dengan berhelai-helai daun pandang kering.

Sugik meletakkan petromaks di atas satu kursi itu, sementara mata Sri masih menatap sekeliling, bingung, ia pun mendekati Sugik saat jejak kakinya terasa aneh, seperti ia menginjak genangan air, ketika Sugik meninggalkan kursi itu, cahaya pendar dari lampu petromaks yang menyala akhirnya menyorot ruangan kosong itu.

Sri tercekat saat sadar, dirinya tengah menginjak lantai kayu yang di genangi darah kental yang masih segar ia menatap Sugik yang juga menatap dirinya.

"getih sing onok nang kene, gak isok garing. Iki getih'e wong sing dadi tumbal amergo Janur Ireng" (darah yang ada di sini, tidak pernah bisa mengering. Ini adalah darah dari semua orang yang sudah menjadi tumbal janur hitam)

Sugik terdiam lama sebelum matanya beralih pada kursi dengan lampu petromaks itu. 


"itu adalah kursi tempat Arjo Kuncoro merobek isi perutnya sambil tertawa dan berteriak bahwa semua akan mendapatkan pembalasan yang setimpal"

"Janur ireng iku tentang getih sing di mulai amergo manten nyowo" (Janur hitam adalah tentang darah kental di atas sebuah pernikahan bermodal nyawa)


Bersambung...

  

Monday, 21 September 2020

Mantera Pengasihan (umum)

Bismillaahirrohmaanirrohiim

Allohumma kun fayakuun

Pangrupaku Nabi Yusuf

Badanku Nabi Muhammad

Pangucapku laa ilaaha illallaah

Muhammad rasululloh

Tekaku seneng ingsun lunga pangleng

Teka welas teka asih

Ati lan pikire wong sekabeh

Pada welas asih pada idep

Maring badan ingsun

Teko madep manut aku saklawase Soko kersaning Allah


Syarat :


Puasa Mutih selama 3 hari sebelumnya mandi keramas terlebih dahulu pada hari pertama puasa.

Selama puasa membaca amalan sebanyak 3 x setelah selesai shalat lima waktu

Monday, 19 March 2018

GUSTI KANJENG RATU KIDUL BERASAL DARI TANAH BATAK

MENGUAK ASAL USUL KANJENG RATU KIDUL

AGUS SISWANTO DAN EKA SUPRIATNA

Pada tgl. 6 Februari 2008 lalu, Misteri mendapat undangan seorang rekan bernama Malau. Beliau mengajak Misteri untuk mengikuti ritual di Pelabuhan Ratu, Sukabumi. Sebuah ritual untuk mengungkap asal usul Kanjeng Ratu Kidul. Tentu saja tawaran itu Misteri sambut hangat. Terlebih ketika dia mengatakan bahwa Kanjeng Ratu Kidul berasal dari Tanah Batak.

Sejauh ini terdapat berbagai pendapat seputar asal usul sosok Kanjeng Ratu Kidul. Ada yang mengatakan, Kanjeng Ratu Kidul sesungguhnya adalah Ratu Bilqis, isteri Nabi Sulaiman Alaihissalam. Dikisahkan, setelah wafatnya Nabi Sulaiman as., Ratu Bilqis mengasingkan dirinya ke suatu negeri. Di sana beliau bertapa hingga moksa atau ngahyang.

Legenda lain seputar Kanjeng Ratu Kidul adalah Dewi Nawang Wulan, sosok bidadari yang pernah diperisteri Jaka Tarub. Sedangkan kisah lain tidak secara spesifik menyebutkan asal Kanjeng Ratu Kidul, kecuali dia puteri seorang raja di Tanah Jawa.

Sinyalemen Kanjeng Ratu Kidul berasal dari Tanah Batak bukannya tanpa alasan. Isu ini pertama kali dibicarakan tahun 1985, ketika dalam suatu acara adat Batak di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), beberapa orang mengangkat masalah ini. Tetapi rupanya tidak terlalu mendapat respon yang hadir. Isu pun tenggelam dengan sendirinya.

Ketika Misteri membuka internet, hanya terdapat satu situs yang menyinggung masalah ini. Itupun hanya dalam beberapa baris kalimat saja. Demikian kutipannya:

“Ini dia cerita tentang Ratu Laut Selatan yang dipercaya sebagian orang sebagai Biding Laut, saudara dari Saribu Raja yang notabene adalah keturunan Raja Batak.…tapi baca dulu kisahnya ya… siapa tau Nyi Roro Kidul emang keturunan Raja Batak”. (23 desember 2004)

Hanya sekilas saja kalimat yang menyinggung Kanjeng Ratu Kidul sebagai orang Batak.

Padahal, sebagaimana diungkapkan Silalahi, di daerah Samosir ada seorang wanita yang kerap kali kemasukan roh Kanjeng Ratu Kidul. Wanita bernama Boru Tumorang ini sering mengaku sebagai Kanjeng Ratu Kidul ketika sedang trance. Itulah sebabnya, Boru Tumorang sengaja didatangkan ke Jawa untuk mengikuti ritual menguak asal usul Kanjeng Ratu Kidul.


LEGENDA BIDING LAUT

Sebelum melakukan perjalanan ke Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Misteri menyempatkan diri berbincang-bincang dengan Silalahi (40 thn), spiritualis yang akan memimpin ritual tersebut.

“Legenda asal usul Kanjeng Ratu Kidul berasal dari Tanah Batak ini tidak lepas dari kisah Raja-raja Batak,” demikian Silalahi memulai ceritanya.

Dikisahkan, perjalanan etnis Batak dimulai dari seorang raja yang mempunyai dua orang putra. Putra sulung diberi nama Guru Tatea Bulan dan kedua diberi nama Raja Isumbaon.

Putra sulungnya, yakni Guru Tatea Bulan memiliki 11 anak (5 putera dan 6 puteri). Kelima putera bernama: Raja Uti, Saribu Raja, Limbong Mulana, Sagala Raja dan Lau Raja. Sedangkan keenam puteri bernama: Biding Laut, Siboru Pareme, Paronnas, Nan Tinjo, Bulan dan Si Bunga Pandan.

Putri tertua yakni Biding Laut memiliki kecantikan melebihi adik perempuan lainnya. Dia juga memiliki watak yang ramah dan santun kepada orangtuanya. Karena itu, Biding Laut tergolong anak yang paling disayangi kedua orangtuanya.

Namun, kedekatan orangtua terhadap Biding Laut ini menimbulkan kecemburuan saudara-saudaranya yang lain. Mereka lalu bersepakat untuk menyingkirkan Biding Laut.

Suatu ketika, saudara-saudaranya menghadap ayahnya untuk mengajak Biding Laut jalan-jalan ke tepi pantai Sibolga. Permintaan itu sebenarnya ditolak Guru Tatea Bulan, mengingat Biding Laut adalah puteri kesayangannya. Tapi saudara-saudaranya itu mendesak terus keinginannya, sehingga sang ayah pun akhirnya tidak dapat menolaknya.

Pada suatu hari, Biding Laut diajak saudara-saudaranya berjalan-jalan ke daerah Sibolga. Dari tepi pantai Sibolga, mereka lalu menggunakan 2 buah perahu menuju ke sebuah pulau kecil bernama Pulau Marsala, dekat Pulau Nias.

Tiba di Pulau Marsala, mereka berjalan-jalan sambil menikmati keindahan pulau yang tidak berpenghuni tersebut. Sampai saat itu, Biding Laut tidak mengetahui niat tersembunyi saudara-saudaranya yang hendak mencelakakannya. Biding Laut hanya mengikuti saja kemauan saudara-saudaranya berjalan semakin menjauh dari pantai.

Menjelang tengah hari, Biding Laut merasa lelah hingga dia pun beristirahat dan tertidur. Dia sama sekali tidakmenduga ketika dirinya sedang lengah, kesempatan itu lalu dimanfaatkan saudara-saudaranya meninggalkan Biding laut sendirian di pulau itu.

Di pantai, saudara-saudara Biding Laut sudah siap menggunakan 2 buah perahu untuk kembali ke Sibolga. Tetapi salah seorang saudaranya mengusulkan agar sebuah perahu ditinggalkan saja. Dia khawatir kalau kedua perahu itu tiba di Sibolga akan menimbulkan kecurigaan. Lebih baik satu saja yang dibawa, sehingga apabila ada yang menanyakan dikatakan sebuah perahunya tenggelam dengan memakan korban Biding Laut.

Tapi apa yang direncanakan saudara-saudaranya itu bukanlah menjadi kenyataan, karena takdir menentukan lain.

BIDING LAUT DI TANAH JAWA

Ketikaterbangun dari tidurnya, Biding Laut terkejut mendapati dirinya sendirian di Pulau Marsala. Dia pun berlari menuju pantai mencoba menemui saudara-saudaranya. Tetapi tidak ada yang dilihatnya, kecuali sebuah perahu.

Biding laut tidak mengerti mengapa dirinya ditinggalkan seorang diri. Tetapi dia pun tidak berpikiran saudara-saudaranya berusaha mencelakakannya. Tanpa pikir panjang, dia langsung menaiki perahu itu dan mengayuhnya menuju pantai Sibolga.

Tetapi ombak besar tidak pernah membawa Biding Laut ke tanah kelahirannya. Selama beberapa hari perahunya terombang-ombang di pantai barat Sumatera. Entah sudah berapa kali dia pingsan karena kelaparan dan udara terik. Penderitaannya berakhir ketika perahunya terdampar di Tanah Jawa, sekitar daerah Banten.

Seorang nelayan yang kebetulan melihatnya kemudian menolong Biding Laut. Di rumah barunya itu, Biding Laut mendapat perawatan yang baik. Biding Laut merasa bahagia berada bersama keluarga barunya itu. Dia mendapat perlakuan yang sewajarnya. Dalam sekejap, keberadaannya di desa itu menjadi buah bibir masyarakat, terutama karena pesona kecantikannya.

Dikisahkan, pada suatu ketika daerah itu kedatangan seorang raja dari wilayah Jawa Timur. Ketika sedang beristirahat dalam perjalanannya, lewatlah seorang gadis cantik yang sangat jelita bak bidadari dari kayangan dan menarik perhatian Sang Raja. Karena tertariknya, Sang Raja mencari tahu sosok jelita itu yang ternyata Biding Laut. Terpesona kecantikan Biding Laut, sang raja pun meminangnya.

Biding Laut tidak menolak menolak pinangan itu, hingga keduanya pun menikah. SelanjutnyaBiding Laut dibawanya serta ke sebuah kerajaan di Jawa Timur.

TENGGELAM DI LAUT SELATAN

Biding Laut hidup berbahagia bersama suaminya yang menjadi raja. Tetapi kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Terjadi intrik di dalam istana yang menuduh Biding Laut berselingkuh dengan pegawai kerajaan. Hukum kerajaan pun ditetapkan, Biding Laut harus dihukum mati.

Keadaan ini menimbulkan kegalauan Sang Raja. Dia tidak ingin isteri yang sangat dicintainya itu di hukum mati, sementara hukum harus ditegakkan. Dalam situasi ini, dia lalu mengatur siasat untuk mengirim kembali Biding Laut ke Banten melalui lautan.

Menggunakan perahu, Biding Laut dan beberapa pengawal raja berangkat menuju Banten. Mereka menyusuri Samudera Hindia atau yang dikenal dengan Laut Selatan.

Namun malang nasib mereka. Dalam perjalanan itu, perahu mereka tenggelam diterjang badai. Biding Laut dan beberapa pengawalnya tenggelam di Laut Selatan.

Demikianlah sekelumit legenda Biding Laut yang dipercaya sebagai sosok asli Kanjeng Ratu Kidul.

“Dalam legenda raja-raja Batak, sosok Biding Laut memang masih misterius keberadaannya, Sedangkan anak-anak Guru Tatea Bulan yang lain tercantum dalam legenda,” kata Silalahi dengan mimik serius.

Sementara itu, Boru Tumorang (45 thn) mengaku sudah lama dirinya sering kemasukan roh Kanjeng Ratu Kidul. Terutama terjadi saat kedatangan tamu yang minta tolong dirinya untuk melakukan pengobatan. Tetapi Boru Tumorang tidak mengerti mengapa raganya yang dipilih Kanjeng Ratu Kidul. Semuanya terjadi diluar keinginannya.

RITUAL PEMANGGILAN KANJENG RATU KIDUL



Untuk membuktikan keberadaan sosok legenda Biding Laut yang dipercaya sebagai Kanjeng Ratu Kidul, Misteri bersama 8 orang rekan yang semuanya bersuku Batak sengaja datang ke Pelabuhan Ratu untuk melakukan ritual pemanggilan roh Kanjeng Ratu Kidul.

Lokasi pertama adalah makam Guru Kunci Batu Kendit Abah Empar. Lokasi ini cukup dikenal masyarakat, terutama yang hendak melakukan ritual pemanggilan Kanjeng Ratu Kidul. Konon, di tempat ini Kanjeng Ratu Kidul memang biasa muncul.

Sebelum melakukan ritual, sebagaimana biasanya beberapa ubo rampe telah disiapkan, diantaranya: jeruk, jeruk purut, apel, daun sirih, pisang raja, anggur, minyak jin, kembang sepatu, tepung beras, kelapa dan gula (itaguruguru-bahasa Batak).

Sekitar pukul 22.30 malam, dimulailah acara ritual pemanggilan roh Kanjeng Ratu Kidul. Ketika itu, Silalahi dan Boru Tumorang tampak membaca mantera-mantera.Beberapa saat kemudian, Silalahi mulai menampakkan perubahan ekspresi wajah. Sosok gaib yang dipanggil tampaknya telah merasuk ke dalam raganya. Belakangan Misteri mengetahui, sosok gaib itu adalah roh Raja Batak.

Sementara dalam waktu hampir bersamaan, Boru Tumorang pun memperlihatkan ekspresi kesurupan. Tiba-tiba tubuhnya tersungkur lalu merangkak bergeser posisi. Setelah itu, dia kembali duduk dengan wajah tertunduk dan mata terpejam. Roh Kanjeng Ratu Kidul telah merasuk ke dalam raga wanita asal Samosir ini.

Terjadilah dialog dalam bahasa Batak antara Silalahi (yang sudah kemasukan roh Raja Batak) dengan Boru Tumorang dan beberapa orang yang hadir. Sepanjang dialog itu, ekspresi wajah Boru Tumorang berubah-ubah. Terkadang tersenyum, tertawa, menangis dan melantunkan lagu berisi sejumlah nasehat.

Kalimat pertama yang diucapkan Kanjeng Ratu Kidul adalah

”Kenapa baru sekarang kalian datang untuk menemui saya? Padahal saya sudah lama berada di sini,”ujar Kanjeng Ratu Kidul melalui bibir Boru Tumorang.

Ketika salah seorang yang hadir bertanya tentang Biding Laut, seketika Kanjeng Ratu Kidul menukas,” Ya, sayalah Biding Laut. Terserah apakah kalian akan percaya atau tidak.”

Selanjutnya dialog meluncur begitu saja. Beberapa dialog yang Misteri catat diantaranya saat Boru Tumorang menangis sambil berkata:

“Boasa gudang hamo nalupa tuauito (kenapa kalian sudah lupa sama saya)?” ujar Kanjeng Ratu Kidul melalui bibir Boru Tumorang. “Ahado sisukunonmuna (Apa yang kalian mau pertanyakan)?” lanjut Kanjeng Ratu Kidul.

“Hamirotuson nanboru namagido tangiansiangho (Kami datang kesini untuk minta doa dari Nyai),” jawab salah seorang yang hadir.

“Asadikontuhata pasupasu dohut rajohi (Biar diberikan Tuhan berkat kepada kami),” kata yang lain.

Tampak Boru Tumorang menggoyang-goyangkan tubuhnya. Kepalanya seperti digelengkan, terkadang mengangguk-angguk. Sesaat kemudian dia berkata,

“Posmaruham, paubahamuma pangalaho rohamuna (Percayalah. Asalkan kalian berubah sikap dan tingkah laku menjadi lebih baik, itu pasti akan terjadi).”

“Molonang muba rohamu nalaroma balainna he he mamuse kuti tuinjang (Kalau tidak berubah sikap dengan baik akan muncul bencana lagi-tsunami)”

“Dangdiadia dope namasae naosolpu nalaroma muse naung gogosiani (Belum seberapa bencana yang sudah lalu. Lebih dahsyat bencana yang akan datang lagi. Kalau kalian tidak percaya kepada Tuhan).”

Nasehat Kanjeng Ratu Kidul itu tampaknya ditujukan ke semua orang. Sedangkan kepada anak keturunannya dari suku Batak, Kanjeng Ratu Kidul berkata,

”Posmarohamu amang paboanhudoi tuhamu pomparanhu dibagasan parnipion (Percayalah. Semua keturunanku akan saya beritahukan lewat mimpi masing-masing).”

“Posmaroham amang patureon hudo sube popparamme (Percayalah, akan saya bantu dan saya tolong semua keturunannmu ini).

Kanjeng Ratu Kidul juga berpesan kepada semua manusia agar tidak membeda-bedakan suku, ”Pabohamu tumanisiae asa unang mambedahon popparanhisude (Beritahu kepada semua manusia supaya tidak membedakan suku).”

Selanjutnya dia berkata lagi,”Asarat martonggo mahita tuoputa (Marilah kita bersama-sama berdoa kepada Tuhan).”

Dialog dengan roh Kanjeng Ratu Kidul itu berlangsung sekitar setengah jam. Isi dialog sarat dengan nasehat kepada manusia agar selalu berbuat kebajikan.

Namun yang pasti, dalam dialog itu juga Kanjeng Ratu Kidul menceritakan sosok asal usul dirinya dan nama aslinya.

Upaya penelusuran ini membuka wacana baru seputar asal usul Kanjeng Ratu Kidul. Acara ritual ini pun tidak dimaksudkan untuk membenarkan satu fihak. Sebagaimana dikatakan Silalahi,

“Kami tidak bermaksud mengklaim kebenaran pendapat kami,”ujar Silalahi sambil tersenyum. “Tetapi kami hanya mencoba mengangkat kembali sebuah isu yang sudah lama berkembang di daerah kami. Kebenarannya boleh saja diperdebatkan,” lanjutnya.

Benar apa yang dikatakannya. Sosok gaib Kanjeng Ratu Kidul memang layak diperdebatkan. Keberadaan maupun asal usulnya bisa darimanapun juga. Tetapi yang pasti, nasehat-nasehat Kanjeng Ratu Kidul yang diucapkan melalui medium yang kesurupan, seringkali mengingatkan kita untuk selalu percaya kepada Tuhan.



RITUAL PEMANGGILAN KANJENG RATU KIDUL

Untuk membuktikan keberadaan sosok legenda Biding Laut yang dipercaya sebagai Kanjeng Ratu Kidul, Misteri bersama 8 orang rekan yang semuanya bersuku Batak sengaja datang ke Pelabuhan Ratu untuk melakukan ritual pemanggilan roh Kanjeng Ratu Kidul.

Lokasi pertama adalah makam Guru Kunci Batu Kendit Abah Empar. Lokasi ini cukup dikenal masyarakat, terutama yang hendak melakukan ritual pemanggilan Kanjeng Ratu Kidul. Konon, di tempat ini Kanjeng Ratu Kidul memang biasa muncul.

Sebelum melakukan ritual, sebagaimana biasanya beberapa ubo rampe telah disiapkan, diantaranya: jeruk, jeruk purut, apel, daun sirih, pisang raja, anggur, minyak jin, kembang sepatu, tepung beras, kelapa dan gula (itaguruguru-bahasa Batak).

Sekitar pukul 22.30 malam, dimulailah acara ritual pemanggilan roh Kanjeng Ratu Kidul. Ketika itu, Silalahi dan Boru Tumorang tampak membaca mantera-mantera. Beberapa saat kemudian, Silalahi mulai menampakkan perubahan ekspresi wajah. Sosok gaib yang dipanggil tampaknya telah merasuk ke dalam raganya. Belakangan Misteri mengetahui, sosok gaib itu adalah roh Raja Batak.

Sementara dalam waktu hampir bersamaan, Boru Tumorang pun memperlihatkan ekspresi kesurupan. Tiba-tiba tubuhnya tersungkur lalu merangkak bergeser posisi. Setelah itu, dia kembali duduk dengan wajah tertunduk dan mata terpejam. Roh Kanjeng Ratu Kidul telah merasuk ke dalam raga wanita asal Samosir ini.

Terjadilah dialog dalam bahasa Batak antara Silalahi (yang sudah kemasukan roh Raja Batak) dengan Boru Tumorang dan beberapa orang yang hadir. Sepanjang dialog itu, ekspresi wajah Boru Tumorang berubah-ubah. Terkadang tersenyum, tertawa, menangis dan melantunkan lagu berisi sejumlah nasehat.

Kalimat pertama yang diucapkan Kanjeng Ratu Kidul adalah

”Kenapa baru sekarang kalian datang untuk menemui saya? Padahal saya sudah lama berada di sini,”ujar Kanjeng Ratu Kidul melalui bibir Boru Tumorang.

Ketika salah seorang yang hadir bertanya tentang Biding Laut, seketika Kanjeng Ratu Kidul menukas,” Ya, sayalah Biding Laut. Terserah apakah kalian akan percaya atau tidak.”

Selanjutnya dialog meluncur begitu saja. Beberapa dialog yang Misteri catat diantaranya saat Boru Tumorang menangis sambil berkata:


“Boasa gudang hamo nalupa tuauito (kenapa kalian sudah lupa sama saya)?” ujar Kanjeng Ratu Kidul melalui bibir Boru Tumorang. “Ahado sisukunonmuna (Apa yang kalian mau pertanyakan)?” lanjut Kanjeng Ratu Kidul.

“Hamirotuson nanboru namagido tangiansiangho (Kami datang kesini untuk minta doa dari Nyai),” jawab salah seorang yang hadir.

“Asadikontuhata pasupasu dohut rajohi (Biar diberikan Tuhan berkat kepada kami),” kata yang lain.

Tampak Boru Tumorang menggoyang-goyangkan tubuhnya. Kepalanya seperti digelengkan, terkadang mengangguk-angguk. Sesaat kemudian dia berkata,

“Posmaruham, paubahamuma pangalaho rohamuna (Percayalah. Asalkan kalian berubah sikap dan tingkah laku menjadi lebih baik, itu pasti akan terjadi).”

“Molonang muba rohamu nalaroma balainna he he mamuse kuti tuinjang (Kalau tidak berubah sikap dengan baik akan muncul bencana lagi-tsunami)”

“Dangdiadia dope namasae naosolpu nalaroma muse naung gogosiani (Belum seberapa bencana yang sudah lalu. Lebih dahsyat bencana yang akan datang lagi. Kalau kalian tidak percaya kepada Tuhan).”

Nasehat Kanjeng Ratu Kidul itu tampaknya ditujukan ke semua orang. Sedangkan kepada anak keturunannya dari suku Batak, Kanjeng Ratu Kidul berkata,

”Posmarohamu amang paboanhudoi tuhamu pomparanhu dibagasan parnipion (Percayalah. Semua keturunanku akan saya beritahukan lewat mimpi masing-masing).”

“Posmaroham amang patureon hudo sube popparamme (Percayalah, akan saya bantu dan saya tolong semua keturunannmu ini).

Kanjeng Ratu Kidul juga berpesan kepada semua manusia agar tidak membeda-bedakan suku, ”Pabohamu tumanisiae asa unang mambedahon popparanhisude (Beritahu kepada semua manusia supaya tidak membedakan suku).”

Selanjutnya dia berkata lagi,”Asarat martonggo mahita tuoputa (Marilah kita bersama-sama berdoa kepada Tuhan).”

Dialog dengan roh Kanjeng Ratu Kidul itu berlangsung sekitar setengah jam. Isi dialog sarat dengan nasehat kepada manusia agar selalu berbuat kebajikan.

Namun yang pasti, dalam dialog itu juga Kanjeng Ratu Kidul menceritakan sosok asal usul dirinya dan nama aslinya.

Upaya penelusuran ini membuka wacana baru seputar asal usul Kanjeng Ratu Kidul. Acara ritual ini pun tidak dimaksudkan untuk membenarkan satu fihak. Sebagaimana dikatakan Silalahi,

“Kami tidak bermaksud mengklaim kebenaran pendapat kami,”ujar Silalahi sambil tersenyum. “Tetapi kami hanya mencoba mengangkat kembali sebuah isu yang sudah lama berkembang di daerah kami. Kebenarannya boleh saja diperdebatkan,” lanjutnya.


Benar apa yang dikatakannya. Sosok gaib Kanjeng Ratu Kidul memang layak diperdebatkan. Keberadaan maupun asal usulnya bisa darimanapun juga. Tetapi yang pasti, nasehat-nasehat Kanjeng Ratu Kidul yang diucapkan melalui medium yang keserupan, seringkali mengingatkan kita untuk selalu percaya kepada Tuhan.



Sumber : https://gus7.wordpress.com/2008/05/29/gusti-kanjeng-ratu-kidul-berasal-dari-tanah-batak-1